Close Menu
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Big Media
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

POLSEK KAPUAS MURUNG SOSIALISASIKAN BAHAYA TAMBANG ILEGAL DAN MERKURI, ANCAMAN DENDA RP100 MILIAR

Dari Ruang Kelas ke Panggung MotoGP Mandalika, Pertamina Buka Akses Digital bagi Anak Disabilitas Netra

Bentang Sepanduk Larangan Membakar Hutan Dan Lahan Personil Polsek Kapuas Murung Melalui Giat Sosialisasi Karhutla

Facebook X (Twitter) Instagram
Analis
Subscribe Now
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Big Media
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
Analis
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Big Media
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
You are at:Home»TV & Drama»Jakarta Film Week 2026 Boyong 8 Film Italia: Sajikan Luka Sejarah dan Dilema Moral
TV & Drama

Jakarta Film Week 2026 Boyong 8 Film Italia: Sajikan Luka Sejarah dan Dilema Moral

yadiBy yadi28 Oktober 2026 4:11 PM065 Mins Read
Share Facebook Twitter WhatsApp
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Analisnews.co.id  | JAKARTA — Identitas, ingatan kelam sejarah, kebebasan berkesenian, hingga pergulatan moral menjadi benang merah delapan film Italia yang hadir dalam program Italian Screens di Jakarta Film Week 2026. Melalui beragam genre dan pendekatan sinematik, program ini mengajak penonton Indonesia menyelami pengalaman manusia dari perspektif sinema Italia kontemporer.

Delapan film yang dipilih adalah A Year of School karya Laura Samani, Back to Buenos Aires garapan Marco Bechis, Duse karya Pietro Marcello, La Grazia arahan Paolo Sorrentino, The Forbidden City karya Gabriele Mainetti, The Girl with the Leica garapan Alina Marazzi, The Tasters karya Silvio Soldini, dan Trick besutan Mario Martone.

Kehadiran program ini menjadi bagian dari upaya Jakarta Film Week memperluas kerja sama dengan institusi kebudayaan lokal maupun internasional. Di sisi lain, Italian Screens membawa misi memperkenalkan karya-karya sinema Italia kepada khalayak yang lebih luas sekaligus membuka ruang pertukaran budaya melalui film.

Program tersebut mendapat dukungan dari Kementerian Luar Negeri Italia (MAECI), Kedutaan Besar Italia di Jakarta, Istituto Italiano di Cultura Jakarta, Kementerian Kebudayaan Italia (MiC-DGCA), dan Cinecittà.

Film-film yang terpilih merupakan karya yang diputar di Italia maupun di tingkat internasional dalam dua tahun terakhir dan memperoleh pengakuan di dalam serta luar negeri. Keberagaman genre dan gaya penceritaan menjadi gambaran dinamika perfilman Italia yang terus berkembang.

Identitas, kekuasaan, dan ingatan masa lalu

Dalam A Year of School, Laura Samani mengangkat pergulatan identitas melalui kisah Fred, remaja perempuan yang pindah ke Trieste dan menjadi satu-satunya perempuan di kelas yang seluruh siswanya laki-laki. Kehadirannya mengubah hubungan pertemanan di lingkungan sekolah, sekaligus menguji batas penerimaan dan cara seseorang menemukan tempatnya di tengah kelompok.

Persoalan yang lebih gelap hadir dalam Back to Buenos Aires karya Marco Bechis. Film ini mengikuti Mariano, seorang dokter yang kembali ke Buenos Aires untuk memberikan kesaksian tentang kejahatan pada masa kediktatoran Argentina yang pernah melibatkan dirinya. Kepulangan tersebut memaksanya berhadapan dengan ingatan, rasa bersalah, dan tanggung jawab atas keputusan masa lalu.

Sementara itu, Duse karya Pietro Marcello menyoroti kehidupan Eleonora Duse, aktris teater legendaris Italia. Berlatar antara Perang Dunia I dan kebangkitan fasisme, film ini menggambarkan perjuangan Duse untuk kembali ke panggung dan mempertahankan kemandiriannya di tengah perubahan sosial-politik.

Kisah tersebut tidak semata-mata berbicara tentang seorang seniman dan panggungnya. Di dalamnya, terselip pertanyaan mengenai posisi seni ketika berhadapan dengan kekuasaan, serta sejauh mana seorang seniman dapat mempertahankan kebebasannya di tengah tekanan zaman.

Persoalan moral dan kekuasaan kembali menjadi perhatian dalam La Grazia, film Paolo Sorrentino yang dibintangi Toni Servillo. Karya terbaru sutradara yang dikenal luas di kancah internasional ini masuk program Currents, salah satu program khusus Jakarta Film Week yang menampilkan film-film terkini dengan rekognisi dan pemutaran di festival film prestisius dunia.

Film tersebut mengikuti Mariano De Santis, Presiden Italia fiktif yang menghadapi sejumlah keputusan sulit menjelang akhir masa jabatannya. Salah satunya adalah permohonan pengampunan yang menempatkannya dalam persimpangan antara hukum, moralitas, dan keyakinan pribadi.

Melalui tokoh seorang presiden, Sorrentino membawa persoalan pengambilan keputusan ke wilayah yang lebih personal: bagaimana seseorang menentukan pilihan ketika kewenangan, tanggung jawab, dan suara hati tidak selalu berjalan searah.

Dari konflik kriminal hingga perempuan di medan perang

Keberagaman sinema Italia juga terlihat dalam The Forbidden City karya Gabriele Mainetti. Film aksi dan drama kriminal ini mempertemukan dunia kuliner Tiongkok di Roma dengan konflik antarkelompok dan persoalan keluarga.

Ceritanya mengikuti seorang perempuan muda asal Tiongkok yang datang ke Roma untuk mencari ayahnya yang hilang. Pencarian itu membawanya bertemu dengan seorang pria Italia yang juga tengah menghadapi persoalan keluarganya. Pertemuan dua latar kehidupan tersebut berkembang menjadi kisah yang memadukan pencarian, konflik, dan hubungan antarmanusia.

Adapun The Girl with the Leica garapan Alina Marazzi mengangkat sosok Gerda Taro, fotografer perang perempuan yang dikenal melalui keberanian dan dokumentasi konflik. Berlatar Paris pada 1937, film ini menelusuri perjalanan Taro dari aktivitas politik dan pengasingan hingga fotografi menjadi medium ekspresi, perlawanan, dan kebebasan.

Melalui kisah Taro, fotografi tidak hanya hadir sebagai alat untuk merekam peristiwa, tetapi juga sebagai cara seseorang mengambil sikap terhadap dunia yang sedang dilanda konflik.

Sudut pandang personal terhadap sejarah menjadi kekuatan The Tasters karya Silvio Soldini. Diadaptasi dari novel At the Wolf’s Table karya Rosella Postorino yang terinspirasi oleh kisah Margot Wölk, film ini mengikuti Rosa Sauer, perempuan muda yang dipaksa bergabung dengan kelompok pencicip makanan untuk pemimpin Nazi demi memastikan hidangan tersebut tidak mengandung racun.

Di bawah bayang-bayang Perang Dunia II, para perempuan itu hidup dalam ancaman yang terus membayangi keseharian mereka. Ketakutan, persahabatan, dan hubungan antarmanusia menjadi bagian penting dari cerita yang memperlihatkan bagaimana individu bertahan dalam situasi yang tidak memberi banyak pilihan.

Fajri, salah seorang penonton The Tasters, mengapresiasi pendekatan film tersebut dalam memandang peristiwa sejarah melalui pengalaman personal para karakternya.

“Film ini memberi perspektif berbeda tentang Perang Dunia II. Saya tertarik melihat bagaimana pengalaman dan hubungan antarkarakter menjadi bagian penting dari cerita, sehingga penonton bisa memahami situasi tersebut dari sudut pandang yang lebih dekat dengan kehidupan manusia,” ujar Fajri.

Imajinasi anak dan kegelisahan seorang seniman

Melengkapi delapan film pilihan tersebut, Trick karya Mario Martone membawa penonton ke ranah hubungan keluarga dan pergulatan kreatif.

Film ini mengikuti Daniele Mallarico, ilustrator sukses yang kembali ke Naples untuk menjaga cucunya yang berusia empat tahun. Waktu yang mereka habiskan bersama berkembang menjadi pertemuan tak terduga antara imajinasi seorang anak dan kegelisahan seorang seniman yang mulai berhadapan dengan usia serta perubahan dalam kreativitasnya.

Melalui hubungan lintas generasi itu, Trick mengeksplorasi cara manusia memandang dunia secara berbeda, sekaligus mempertemukan spontanitas masa kanak-kanak dengan pengalaman dan kegelisahan orang dewasa.

Kehadiran delapan film Italia dalam Jakarta Film Week 2026 memperlihatkan bahwa sinema dapat menjadi ruang untuk membaca sejarah sekaligus memahami pengalaman manusia yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dari pencarian identitas hingga trauma politik, dari kebebasan seni hingga keputusan moral, setiap film menawarkan perspektif berbeda tentang individu yang berhadapan dengan lingkungan dan zamannya.

Melalui Italian Screens, Jakarta Film Week tidak hanya memperkenalkan karya-karya sinema Italia kontemporer, tetapi juga membuka kesempatan bagi penonton Indonesia untuk berdialog dengan kebudayaan lain melalui cerita, karakter, dan pengalaman yang melampaui batas negara.(red/py).

FestivalFilm FilmInternasional ItalianScreens JakartaFilmWeek2026 SinemaItalia
Share. Facebook Twitter WhatsApp
Previous ArticleCalon Incamben Anggota BPD Tanjung Baru Sugiarto Wijaya, SP, Unggul di Dapil 3.
Next Article Cegah Kejahatan, Polsek Parenggean Tingkatkan Patroli Rawan malam di Kelurahan Parenggean
yadi

Related Posts

PATROLI DIMTAQ, PERSONEL SAMAPTA POLSEK KAPUAS TENGAH AJAK GENERASI MUDA PERKUAT IMAN, DISIPLIN DAN JAGA KAMTIBMAS

28 Oktober 2026 2:47 PM

Jakarta Film Week 2026 Resmi Berakhir, Filipiñana dan Nobody Loves Kay Sabet Penghargaan

28 Oktober 2026 9:27 AM

SEMBARI PATROLI JALAN KAKI DI PEMUKIMAN PENDUDUK DESA MASARAN, POLSEK KAPUAS TENGAH INGATKAN KADES MASARAN BAHAYA BERITA HOAX LEWAT DIALOGIS KAMTIBMAS

28 Oktober 2026 8:14 AM
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

Demo
© 2026 analisnews. Designed by analisnews.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.