Analisnews.co.id | JAKARTA – Tiga puluh empat tahun bukan perjalanan singkat bagi sebuah festival seni. Di tengah perubahan zaman dan dinamika dunia kebudayaan, Indonesian Dance Festival (IDF) terus menjaga ruang bagi tari kontemporer untuk tumbuh, bereksperimen, dan menemukan generasi penerusnya.
Memasuki edisi ke-18, Indonesian Dance Festival 2026 resmi dibuka di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis (29/10/2026). Mengusung tema Underlying Drift – Yang Bergeser di Kedalaman, festival yang berlangsung hingga 1 November 2026 ini mengajak publik menyelami perubahan yang tidak selalu terlihat di permukaan, tetapi membentuk tubuh, identitas, budaya, dan kehidupan sosial.
Lebih dari sekadar perhelatan pertunjukan, IDF menjadi ruang pertemuan seniman, koreografer, komunitas, dan publik untuk membaca perkembangan seni tari sekaligus merawat keberlanjutan ekosistem tari kontemporer Indonesia.
Direktur Indonesian Dance Festival, Ratri Anindyajati, mengatakan keberlanjutan festival tidak semata-mata diukur dari kemampuannya menyelenggarakan acara secara rutin. Lebih dari itu, yang penting adalah bagaimana festival mampu mempertahankan ruang bagi seniman untuk terus mencipta dan bertumbuh.
“Pentingnya menjaga ruang tempat seniman dapat terus mencipta, karya-karya yang berbeda bertemu dengan publik, dan kita mengalami sesuatu yang mungkin belum pernah kita kenal sebelumnya,” ujar Ratri.
Menurut dia, perjalanan panjang IDF memperlihatkan pentingnya ruang perjumpaan antara karya, seniman, dan penonton. Dari pertemuan tersebut, berbagai kemungkinan artistik dapat tumbuh dan memperkaya perspektif masyarakat terhadap seni tari.
Retno Maruti Terima Lifetime Achievement Award
Salah satu momen penting dalam pembukaan IDF 2026 adalah penganugerahan Lifetime Achievement Award kepada maestro tari Indonesia, Retno Maruti.
Penghargaan tersebut menjadi bentuk penghormatan atas dedikasi dan kontribusinya dalam menjaga serta mengembangkan seni tari tradisi Indonesia.
Di tengah perkembangan tari kontemporer yang terus bergerak, kehadiran para maestro seperti Retno Maruti memiliki arti penting. Tradisi bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan pengetahuan dan praktik artistik yang terus hidup melalui proses pembelajaran, penciptaan, serta pewarisan antargenerasi.
Penghargaan ini sekaligus menegaskan bahwa masa depan tari Indonesia tidak harus memutus hubungan dengan akar tradisinya.
Hartati Hadirkan Waktu Paruh
Semangat mempertemukan tradisi dan kemungkinan baru juga terlihat melalui pertunjukan Waktu Paruh, karya koreografer Indonesia Hartati yang tampil dalam program BENTANG.
Melalui eksplorasi tubuh, ruang, identitas, dan tradisi, Hartati menghadirkan pendekatan koreografi yang mengajak penonton membaca kembali pengalaman manusia dan hubungannya dengan konteks budaya.
Pertunjukan tersebut menjadi bagian dari upaya IDF menghadirkan beragam pendekatan artistik. Tari tidak hanya dipandang sebagai rangkaian gerak di atas panggung, tetapi juga sebagai medium untuk menyampaikan gagasan, merekam pengalaman, dan mempertanyakan kembali hubungan manusia dengan lingkungannya.
Jakarta dan Masa Depan Ekosistem Seni
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dalam pesan sambutan tertulisnya menilai tari kontemporer memiliki potensi lebih luas, termasuk memperkuat daya tarik pariwisata dan membuka peluang ekonomi bagi pelaku industri kreatif.
Menurut Pramono, perkembangan seni dan budaya merupakan bagian penting dari visi Jakarta sebagai kota global.
Tantangannya adalah memastikan kehidupan kebudayaan tidak hanya bertumpu pada penyelenggaraan festival, tetapi juga didukung kolaborasi pemerintah, institusi kebudayaan, komunitas, dan masyarakat.
IDF menjadi salah satu ruang yang memperlihatkan bagaimana kolaborasi tersebut dapat membuka kesempatan bagi seniman lokal untuk berinteraksi dengan komunitas seni internasional.
Selama empat hari, 29 Oktober hingga 1 November 2026, festival menghadirkan berbagai agenda, mulai dari pertunjukan dalam program BENTANG, KAMPANA, diskusi, lokakarya, hingga ruang pertukaran gagasan.
Melalui tema Underlying Drift, IDF 2026 mengajak penonton melihat lebih jauh dari gerakan yang tampak di panggung. Sebab, di balik setiap gerak, terdapat pengalaman, identitas, ingatan, dan perubahan yang terus membentuk kehidupan manusia.
Setelah 34 tahun perjalanan, tantangan Indonesian Dance Festival bukan sekadar mempertahankan keberadaan sebuah festival, melainkan memastikan tari kontemporer tetap memiliki ruang untuk berkembang dan menemukan masa depannya.(red/py).
