Analisnews.co.id | JAKARTA – Penggerebekan kawasan Kampung Bahari, Tanjung Priok, Jakarta Utara, oleh aparat gabungan mendapat perhatian Anggota Komisi III DPR RI Adang Daradjatun. Dia menilai operasi tersebut menjadi bukti kehadiran negara dalam melindungi masyarakat dari ancaman peredaran gelap narkotika.
Namun, Adang mengingatkan pemberantasan narkoba tidak boleh berhenti pada operasi penindakan sesaat. Dibutuhkan komitmen jangka panjang, konsistensi aparat penegak hukum, serta dukungan masyarakat untuk memutus mata rantai peredaran narkotika.
“Perang melawan narkoba bukan sekadar operasi sesaat, melainkan perjuangan jangka panjang yang membutuhkan konsistensi seluruh aparat penegak hukum dan dukungan masyarakat,” kata Adang di Jakarta, Minggu.(1/11)
Menurut Adang, operasi gabungan yang melibatkan BNN, Bareskrim Polri, Polda Metro Jaya, dan Brimob menunjukkan pentingnya sinergi antarlembaga dalam menghadapi kejahatan narkotika yang memiliki jaringan dan pendanaan terorganisasi.
Dia menilai pemberantasan jaringan narkoba bukan pekerjaan mudah. Aparat di lapangan harus menghadapi berbagai bentuk perlawanan sehingga keberanian, profesionalisme, dan ketegasan menjadi hal penting dalam menjalankan tugas.
Meski demikian, Adang menegaskan keberhasilan penggerebekan tidak cukup diukur dari jumlah orang yang ditangkap. Penegakan hukum harus dikembangkan hingga menyentuh aktor utama di balik bisnis haram tersebut.
Bandar dan Aliran Dana Harus Diungkap
Adang meminta aparat menjadikan penangkapan para pelaku di lapangan sebagai pintu masuk untuk membongkar jaringan yang lebih besar. Termasuk mengungkap bandar, pemasok, pengendali, hingga pihak-pihak yang diduga memberikan perlindungan terhadap aktivitas peredaran narkotika.
“Penelusuran aliran dana hasil kejahatan juga penting dilakukan agar jaringan narkoba tidak memiliki kemampuan untuk kembali membangun bisnis ilegalnya,” ujarnya.
Selain penindakan hukum, Adang menekankan pentingnya pendekatan komprehensif dalam menangani kawasan rawan narkoba seperti Kampung Bahari.
Menurut dia, pemberantasan narkotika harus berjalan beriringan dengan pencegahan, rehabilitasi korban penyalahgunaan narkotika, pemberdayaan masyarakat, serta pemulihan lingkungan sosial.
Dia juga meminta masyarakat setempat tidak dipandang sebagai bagian dari persoalan. Sebaliknya, warga harus dilibatkan sebagai mitra strategis dalam memutus mata rantai peredaran narkoba.
“Jangan sampai masyarakat yang sebenarnya ingin hidup aman dan terbebas dari narkoba justru menjadi korban atau berada dalam tekanan jaringan bandar,” katanya.
Sebelumnya, Polda Metro Jaya menangkap 27 orang yang diduga terlibat dalam jaringan peredaran narkotika saat penggerebekan di kawasan Kampung Bahari, Jakarta Utara, Minggu.
Dalam operasi tersebut, petugas gabungan juga menyita sejumlah senjata api.
Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya Kombes Pol Bismo Teguh Prakoso mengatakan penggerebekan dilakukan secara serentak dari berbagai sisi dengan melibatkan sejumlah instansi.
“Kita melakukan penggerebekan dari berbagai sisi. Oleh karena itu kita lakukan serempak, kemudian kita berkolaborasi dengan semua pihak, dari BNN, Bareskrim, Polda Metro Jaya, Brimob, dan lain sebagainya,” kata Bismo.
Operasi tersebut menjadi bagian dari upaya aparat mengungkap jaringan peredaran narkotika di kawasan Kampung Bahari.(red/py).
