Analisnews.co.id | BANDA ACEH – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamen Komdigi) Nezar Patria mengajak generasi muda Aceh memanfaatkan teknologi digital untuk mengembangkan startup berbasis potensi daerah yang mampu menembus pasar internasional, khususnya Malaysia, Singapura, hingga Thailand.
Menurut Nezar, posisi strategis Aceh yang berada di jalur perdagangan Selat Malaka menjadi keunggulan tersendiri untuk mengembangkan bisnis digital lintas negara.
“Aceh punya potensi yang besar bukan hanya di tingkat nasional. Karena posisi kita ada di Selat Malaka, kita punya peluang yang cukup besar untuk bisa berbisnis lintas negara,” ujar Nezar dalam acara Aceh Startup Day 2026 di Banda Aceh, Senin (2/11/2026).
Ia menilai, kedekatan geografis dengan sejumlah negara Asia Tenggara harus dimanfaatkan generasi muda untuk menciptakan inovasi yang tidak hanya memenuhi kebutuhan pasar domestik, tetapi juga memiliki daya saing regional.
Nezar mendorong anak muda Aceh mulai mengembangkan aplikasi dan model bisnis digital yang dibangun dari daerah, tetapi dapat digunakan oleh masyarakat negara tetangga.
“Rekan-rekan generasi muda Aceh, kita gunakan kesempatan ini agar kita outward looking. Kita melihat keluar, kita coba buat aplikasi-aplikasi yang berbasis di Aceh tapi juga dipakai oleh negara-negara tetangga,” tegasnya.
Kopi Gayo hingga Perikanan Masuk Lanskap Digital
Nezar menyebut sektor pertanian, perikanan, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai bidang yang memiliki peluang besar untuk dikembangkan melalui inovasi teknologi.
Potensi perikanan di sepanjang pesisir utara dan timur Aceh, misalnya, dapat menjadi ruang bagi startup untuk menghadirkan solusi digital yang meningkatkan produktivitas, efisiensi rantai pasok, hingga memperluas akses pemasaran.
Peluang serupa terbuka bagi komoditas unggulan Aceh, seperti kopi Gayo, cokelat, dan nilam.
Melalui pemanfaatan teknologi digital, produk-produk lokal tersebut diharapkan memiliki identitas dan nilai tambah yang lebih kuat sekaligus mampu menjangkau konsumen internasional.
Nezar mencontohkan kopi Gayo yang selama ini dikenal melalui kedai-kedai kopi di Aceh. Menurutnya, pemasaran komoditas unggulan tersebut perlu diperluas melalui platform digital agar bisa menjangkau pasar yang lebih luas.
“Jadi kita gunakan kesempatan ini bagaimana bisa memasarkan kopi Gayo itu bukan cuma ada di Banda Aceh, kota seribu kedai kopi, tapi bagaimana dia bisa kita pindahkan ke lanskap digital,” ungkapnya.
Banda Aceh Diusulkan Jadi Kota Garuda Spark
Untuk memperkuat pertumbuhan startup daerah, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menyiapkan pengembangan ekosistem inovasi melalui program Garuda Spark Innovation Hub.
Nezar mengungkapkan, Banda Aceh diusulkan menjadi salah satu dari 10 kota pengembangan Garuda Spark di Indonesia.
Program ini diharapkan dapat menghubungkan komunitas startup lokal dengan jaringan inovasi nasional. Selain itu, pelaku startup juga berpeluang memperoleh pendampingan bisnis, pengembangan teknologi, serta akses terhadap sumber daya untuk memperbesar skala usaha.
Nezar turut menyoroti besarnya potensi sumber daya manusia di Aceh. Sekitar 51 persen penduduk Aceh merupakan kelompok generasi Z dan milenial yang dinilai memiliki modal kuat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi digital.
Ia berharap kreativitas, keberanian berinovasi, dan kemauan untuk memulai menjadi kekuatan generasi muda dalam mengolah potensi daerah menjadi produk dan layanan yang kompetitif di pasar global.
“Yang paling penting adalah kita harus mulai, itu yang paling penting. Kita harus mulai dan biarkan dia bertumbuh dan berkembang,” pungkas Nezar.(red-py).
