Close Menu
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Big Media
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Sanct Social Mampir ke ARCHIWEEK 4.0 UMN, Kampus Pertama Setelah Singapura dan Jakarta dalam Tujuh Minggu

BP Tapera Perkuat Sinergi Penyaluran FLPP, Realisasi Tembus 197 Ribu Rumah

Cara Membuat Website Toko Online Sendiri Sebelum 11.11 dan Harbolnas

Facebook X (Twitter) Instagram
Analis
Subscribe Now
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Big Media
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
Analis
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Big Media
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
You are at:Home»Terkini»Wayang Orang KUNTI, Ketika Seni Tradisi Menjadi Gerakan Kemanusiaan untuk Pejuang Kanker Payudara
Terkini

Wayang Orang KUNTI, Ketika Seni Tradisi Menjadi Gerakan Kemanusiaan untuk Pejuang Kanker Payudara

hartonoBy hartono8 November 2026 2:03 PM083 Mins Read
Share Facebook Twitter WhatsApp
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

 

JAKARTA, Analisnews.co.id,  – Seni tradisi bukan sekadar warisan budaya yang dipertontonkan di atas panggung. Seni juga dapat menjadi bahasa kepedulian dan kekuatan untuk menggerakkan kemanusiaan. Pesan itulah yang dihadirkan melalui pementasan Wayang Orang bertajuk “KUNTI – Perempuan & Takdir” di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Sabtu (7/11/2026).

Pementasan yang memadukan keindahan gamelan, tari, dan drama wayang orang ini memiliki misi sosial. Hasil bersih penjualan tiket didonasikan kepada Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) sebagai bentuk dukungan bagi perjuangan perempuan penyintas kanker payudara.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali bersama sejumlah undangan, tokoh masyarakat, pecinta seni, dan keluarga besar TNI AL.

Mengangkat kisah Dewi Kunti, ibu para Pandawa, pertunjukan ini menghadirkan refleksi tentang keteguhan perempuan dalam menghadapi perjalanan hidup yang tidak selalu mudah. Kunti digambarkan sebagai sosok yang menyimpan cinta, rahasia, pengorbanan, dan keberanian dalam menerima takdir.

Di balik kisah pewayangan tersebut, tersimpan pesan tentang kekuatan seorang perempuan ketika menghadapi cobaan kehidupan. Nilai inilah yang kemudian dipertemukan dengan perjuangan para penyintas kanker payudara.

Pementasan diarahkan oleh Sutradara Teguh “Kenthus” Ampiranto dengan koreografi Nanang Ruswandi dari Wayang Orang Bharata.

Pergelaran diprakarsai Vero Yudo Margono yang juga memerankan Dewi Nagagini. Sementara itu, Aylawati Sarwono bertindak sebagai Produser Eksekutif dari Laskar Indonesia Pusaka sekaligus memerankan Dewi Dursilawati.

Sejumlah tokoh turut mengambil bagian, di antaranya Fera Muhammad Ali, Ketua Jalasenastri, sebagai Dewi Kunti; Giok Hartono sebagai Dewi Gendari; serta Ninok Leksono sebagai Semar.

Keistimewaan pementasan ini juga terlihat dari keterlibatan sejumlah perwira tinggi dan purnawirawan TNI yang berkolaborasi dengan seniman profesional Wayang Orang Bharata. Mereka antara lain Laksamana TNI (Purn.) H. Yudo Margono sebagai Bimasena, Letjen TNI (Purn.) Dodik Wijanarko sebagai Batara Antaboga, Marsdya TNI (Purn.) FH Bambang Soelistyo sebagai Prabu Basudewa, serta sejumlah perwira tinggi lainnya yang turut menghidupkan karakter pewayangan.

Di antara penampilan para tokoh dan seniman tersebut, kehadiran Safia, seorang sinden cilik, juga mencuri perhatian penonton. Suara dan kepiawaiannya melantunkan tembang Jawa mendapat apresiasi dari Helena Rini, pengurus Persatuan Istri Purnawirawan Angkatan Laut (PIPAL) dan suaminya, Laksma TNI (Purn) Nelson Hutasoit, yang hadir menyaksikan pertunjukan.

“Safia sinden cilik. Dia nyinden tadi, bagus banget,” ungkap Helena Rini dengan penuh kekaguman.

Penampilan Safia menjadi salah satu warna tersendiri dalam pementasan tersebut. Kehadirannya sekaligus memperlihatkan bahwa regenerasi seni tradisi dapat tumbuh melalui keterlibatan anak-anak dalam menjaga dan mengenalkan budaya kepada generasi berikutnya.

Kolaborasi lintas kalangan tersebut memperlihatkan bahwa kecintaan terhadap seni tradisi dapat menyatukan berbagai profesi dan generasi dalam satu panggung kebudayaan.

Penyelenggaraan kegiatan ini didukung TNI Angkatan Laut, Jalasenastri, PT Sinar Karya Duta Abadi, Bakti Budaya Djarum Foundation, Yayasan Sekar Ayu Jiwanta, BCA, Walrus, Ikatan Perangkai Bunga Indonesia, YOU•Cl000, serta para donatur.

Selain pertunjukan seni, penyelenggara juga melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui berbagai produk batik, kuliner, dan kerajinan. Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas manfaat kegiatan bagi pelaku ekonomi kreatif.

Melalui KUNTI – Perempuan & Takdir, penyelenggara ingin menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan kepedulian sosial.

Pada akhirnya, panggung wayang orang ini tidak hanya menghidupkan kembali kisah klasik tentang seorang ibu dan perjalanan takdirnya. Lebih dari itu, ada pesan bahwa di tengah perjuangan menghadapi penyakit, perempuan membutuhkan dukungan, perhatian, dan kepedulian bersama.

Sebab, seni yang sesungguhnya hidup bukan hanya seni yang mampu memukau penonton, tetapi juga seni yang menghadirkan manfaat dan harapan bagi sesama.v

Share. Facebook Twitter WhatsApp
Previous ArticleOps Patuh Telabang 2026, Satlantas Polres Murung Raya Sebar Leafet Di CFD Puruk Cahu
Next Article Cara Membuat Website Toko Online Sendiri Sebelum 11.11 dan Harbolnas
hartono

Related Posts

Sanct Social Mampir ke ARCHIWEEK 4.0 UMN, Kampus Pertama Setelah Singapura dan Jakarta dalam Tujuh Minggu

8 November 2026 2:58 PM

BP Tapera Perkuat Sinergi Penyaluran FLPP, Realisasi Tembus 197 Ribu Rumah

8 November 2026 2:49 PM

Cara Membuat Website Toko Online Sendiri Sebelum 11.11 dan Harbolnas

8 November 2026 2:40 PM
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

Demo
© 2026 analisnews. Designed by analisnews.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.