17
April
2026
Jumat - : WIB

“Ini Soal Hak!”—Rhoma Irama Menggugat Sistem Royalti yang Bikin Dangdut Tercekik

yadisuryadi
Maret 18, 2026 10:50 pm pada Entertainment, JAKARTA

Analisnews.co.id | Kisruh royalti kembali memanas dan kali ini, suara protes datang langsung dari para ikon dangdut. Rhoma Irama bersama Ikke Nurjanah dan Elvy Sukaesih tak lagi sekadar menunggu. Mereka bicara.

Dalam diskusi virtual Selasa(17/3) bersama anggota ARDI dan RAI, nada yang muncul bukan lagi sekadar keluhan administratif melainkan kegelisahan yang mengarah pada krisis kepercayaan terhadap sistem pengelolaan royalti musik nasional.

Royalti periode Juli hingga Desember 2025 yang semestinya cair awal 2026, hingga kini tak kunjung diterima. Padahal, bagi banyak musisi dangdut, Ramadan bukan hanya soal panggung tetapi juga momentum bertahan hidup dari hak cipta yang seharusnya mereka terima.

Masalahnya, menurut mereka, terletak pada perubahan kebijakan di Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN). Sentralisasi penarikan royalti, perubahan skema pembagian dari konsensus ke proxy berbasis data, hingga dihapuskannya UPA, dinilai justru memutus mata rantai keadilan bagi para pelaku musik.

Dampaknya tak main-main. Dari yang sebelumnya bisa mencapai Rp1 miliar lebih, kini hanya tersisa puluhan juta rupiah. Angka yang dianggap tak masuk akal jika dibandingkan dengan luasnya penggunaan lagu dangdut di berbagai lini kehidupan masyarakat.

Di tengah situasi itu, Rhoma Irama tak menahan kekecewaannya.

> “Ini bukan sekadar soal uang. Ini soal hak dan penghargaan terhadap karya. Kalau sistemnya seperti ini, bagaimana nasib para pencipta lagu ke depan?”ujar Sang Raja Dangdut Rhoma Irama,dalam siaran pers,Selasa(17/3)

Nada suaranya tegas, mencerminkan kegelisahan yang lebih dalam dari sekadar angka royalti.

Ia juga menyinggung bahwa dangdut adalah musik rakyat yang hidup di banyak ruang dari panggung kecil hingga acara besar namun ironisnya, justru para pelakunya yang kini harus menunggu hak mereka tanpa kepastian.

> “Dangdut itu diputar di mana-mana. Tapi kenapa yang punya karya justru tidak merasakan hasilnya? Ini yang harus dijawab.”Katanya.

Sebagai bentuk kepedulian sekaligus sindiran halus terhadap sistem yang macet, Rhoma memilih langkah konkret: menyumbangkan Rp100 juta untuk anggota ARDI dan RAI. Sebuah aksi yang tak hanya membantu, tetapi juga mempertegas bahwa ada yang tidak beres.

Langkah itu menjadi simbol bahwa di tengah sistem yang dipersoalkan, solidaritas sesama musisi justru bergerak lebih cepat dibanding mekanisme resmi.

Kasus ini kembali membuka luka lama industri musik Indonesia: transparansi, distribusi, dan keadilan royalti. Ketika aturan berubah tanpa kejelasan dampak, yang pertama kali goyah adalah kepercayaan.

Dan kali ini, suara dari panggung dangdut terdengar lebih keras dari biasanya.

Disalin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@Analisnews.co.id
MENU