
Krisis Air Bali Mengkhawatirkan, Tiga Danau di Buleleng Alami Pendangkalan Parah
Analisnews.co.id – BULELENG | Potensi krisis air di Bali kembali menjadi sorotan serius. Pakar lingkungan Universitas Udayana, Prof. Dr. Ir. Ni Luh Kartini, M.S., mengungkapkan bahwa tiga dari empat danau utama penyuplai air di Buleleng kini mengalami pendangkalan dan penurunan kualitas.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam diskusi interaktif HUT ke-55 Pemuda Panca Marga (PPM) Provinsi Bali di Gedung Kesenian Gde Manik, Buleleng.
Menurut Prof. Kartini, kondisi ini tidak terlepas dari dampak perubahan iklim global yang telah memicu defisit air di Bali sejak 2011.
Ia menegaskan bahwa ketersediaan air bersih di dunia sangat terbatas.
Empat danau utama yang menjadi sumber air di Buleleng meliputi Danau Tamblingan, Danau Buyan, Danau Beratan, dan Danau Batur. Dari jumlah tersebut, tiga danau kini dalam kondisi tidak sehat akibat pendangkalan dan penyempitan.
“Danau Buyan mengalami pendangkalan signifikan. Jika dahulu kedalamannya 140 meter, saat ini hanya tersisa 80 meter,” ujar Prof. Kartini.
Ia menjelaskan bahwa kurangnya penanganan gulma serta meningkatnya sedimentasi mempercepat degradasi danau, bahkan berpotensi menghambat aliran air bawah tanah.
Selain isu air, Prof. Kartini juga menyoroti persoalan sampah dan degradasi lingkungan yang semakin kompleks di Bali.
Ia mendorong pendekatan terpadu melalui integrasi sektor pertanian dan pariwisata berbasis energi terbarukan.
“Sampah seharusnya tidak lagi dipandang sebagai masalah, melainkan sumber daya. Biogas bisa dihasilkan dari pengolahan sampah rumah tangga yang selama ini dianggap beban lingkungan,” tegasnya.
Ia menambahkan, pencemaran akibat sampah dari masyarakat dan wisatawan turut memperparah kondisi lingkungan. Sementara di sektor pertanian, kualitas lahan terus menurun.
“Kandungan bahan organik lahan sawah idealnya lima persen. Saat ini tinggal satu persen,” ungkapnya.
Data menunjukkan bahwa komposisi sampah organik di Bali mencapai 65 persen. Jika dikelola dengan baik dari sumbernya, sampah tersebut berpotensi menjadi energi alternatif sekaligus mengurangi beban transportasi pengangkutan.
Di sisi lain, produksi sampah di wilayah perkotaan juga cukup tinggi. Denpasar menghasilkan 957 ton sampah per hari, dengan 622,05 ton di antaranya merupakan sampah organik. Sementara Badung menghasilkan 500 ton sampah per hari, termasuk 325 ton sampah organik.
“Dengan keterbatasan lahan namun menghasilkan bahan organik melimpah, Denpasar dan Badung perlu membangun kolaborasi dengan Buleleng,” kata Prof. Kartini.
Ia melihat Buleleng memiliki potensi besar sebagai wilayah pertanian yang dapat dimanfaatkan untuk pengolahan pupuk organik dari sampah.
“Jika disuplai pupuk organik hasil pengolahan sampah, kesuburan tanah dapat dipulihkan dan produktivitas panen berpotensi meningkag,” tambahnya.
Lebih lanjut, Prof. Kartini mengingatkan masyarakat agar tidak membuang sampah ke sungai karena akan bermuara ke laut dan memperluas pencemaran.
Ia juga menyoroti kondisi TPA Suwung di Denpasar yang kini telah menjelma menjadi “gunung sampah” setinggi 35-40 meter di lahan seluas 32 hektar. Sejumlah TPA lain, termasuk di Buleleng, juga dilaporkan telah melebihi kapasitas. “Solusinya harus dicarikan alternatif pengelolaan,” tegasnya.
Bahaya lain yang disorot adalah pembakaran sampah plastik yang menghasilkan gas dioksin beracun.
“Pembakaran sampah plastik menyebabkan gas dioksin, zat sangat berbahaya dapat menyebar hingga lima kilometer, mencemari udara, tanah, dan air paparanya pada manusia dapat menyebabkan kanker, gangguan reproduksi, hingga gangguan kekebalan tubuh,” tambahnya.
Menurutnya, kondisi ini membutuhkan penanganan komprehensif dan kolaboratif dari seluruh pemangku kepentingan.
Selain berdampak pada lingkungan, tumpukan sampah juga menjadi penyebab banjir dan kemacetan lalu lintas di sejumlah titik di Bali.
Sampah yang menyumbat drainase serta menumpuk di badan jalan mempersempit ruang kendaraan, terutama saat hujan.
“Penanganan sampah harus terpadu dari hulu ke hilir. Edukasi pemilahan di sumber dan pengangkutan tepat waktu harus dilakukan,”
Tranformasi Sampah organik bukan sekedar seremonial, namun lebih kepada tanah Bali, danau Bali, air Bali, kedaulatan pangan Bali untuk generasi berikutnya (red).
krisis air bali, danau buyan, sampah bali, lingkungan bali, perubahan iklim