
Limbah Dapur Jadi Energi: Prof Kartini Ungkap Cara Bikin Biogas Rumahan
Analisnews.co.id – DENPASAR | Limbah dapur rumah tangga seperti sisa nasi, sayuran basi, hingga kulit buah yang selama ini dianggap tak berguna, ternyata bisa diolah menjadi sumber energi bersih.
Akademisi Universitas Udayana, Prof.Dr.Ir. Ni Luh Kartini M.S., mengungkap cara sederhana mengubah sampah organik menjadi biogas skala rumah tangga.
Menurut Prof. Kartini, langkah awal yang perlu dilakukan adalah memilah limbah dapur dengan benar.
“Untuk itu, langkah pertama, pilah limbah dapur, hindari minyak, tulang, jeruk, asam jawa dan bawang menurutnya jenis limbah ini disebut dapat menghambat kerja bakteri,” ujarnya saat ditemui di Kampus Pascasarjana Universitas Udayana, Selasa, 5 Mei 2026.
Setelah dipilah, limbah dapur kemudian diblender dan dicampur air dengan perbandingan satu banding satu hingga berbentuk bubur. Campuran tersebut selanjutnya dimasukkan ke dalam biodigester, yakni wadah kedap udara untuk proses fermentasi.
“Kami pastikan, untuk memancing reaksi tambahkan kotoran sapi sebagai starter, fungsinya untuk lebih mengoptimalkan bakteri mengurai limbah tanpa oksigen. Proses inilah yang disebut fermentasi anaerob,” jelasnya.
Ia menambahkan, proses fermentasi berlangsung selama 15 hingga 30 hari dengan suhu ideal 30–35 derajat Celsius. Dalam waktu sekitar satu minggu, gas metana mulai terbentuk, namun belum bisa langsung digunakan.
“Setelah sepekan, gas metana mulai terbentuk, tetapi gas tersebut belum bisa langsung dipakai dan harus disaring terlebih dahulu,” tegasnya.
Gas yang telah disaring kemudian ditampung dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar kompor.
Bahkan, satu kilogram limbah dapur mampu menghasilkan energi untuk memasak selama kurang lebih 30 menit. Api yang dihasilkan berwarna biru, tidak berasap, serta lebih ramah lingkungan.
Tak hanya menghasilkan gas untuk rumah tangga, Biogas terbarukan jaga bisa jadi bahan bakar strongking, proses ini juga menghasilkan limbah turunan yang bermanfaat. Cairan bioslurry dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair, sedangkan ampas padatnya dapat dikeringkan menjadi kompos.
“Jadi, pada prinsipnya nol limbah, sejalan dengan kearifan lokal, semua kembali ke alam. Dari dapur, kembali ke dapur, inilah energi terbarukan dari limbah yang selama ini kita buang,” pungkas Prof. Kartini.
Solusi ini dinilai sebagai langkah cerdas dan berkelanjutan yang dapat diterapkan di tingkat rumah tangga untuk mengurangi sampah sekaligus menekan penggunaan energi konvensional. (red).
biogas rumah tangga, energi terbarukan, limbah dapur, Universitas Udayana, Prof Ni Luh Kartini