10
Mei
2026
Minggu - : WIB

Rasuna Said Bersolek, Jakarta Menata Wajah Baru Menjelang Usia 499 Tahun

yadisuryadi
Mei 10, 2026 3:37 pm pada JAKARTA, News

Analisnews.co.id | Pagi di kawasan Rasuna Said, Minggu (10/5), terasa berbeda. Di antara trotoar yang tengah dibenahi, jalur sepeda yang mulai tertata, dan sisa wajah lama kota yang perlahan ditinggalkan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memulai hitung mundur menuju usia ke-499 Jakarta.

Bukan sekadar seremoni ulang tahun kota, pencanangan HUT ke-499 Jakarta di Plaza Festival Pedestrian, Kuningan, menjadi penanda arah baru ibu kota: kota global yang berusaha lebih ramah, lebih tertib, dan lebih bersih.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung sengaja memilih koridor Jalan H.R. Rasuna Said sebagai lokasi pencanangan. Pilihan itu bukan tanpa pesan. Kawasan yang selama hampir dua dekade identik dengan tiang-tiang monorel mangkrak kini sedang diubah menjadi wajah baru Jakarta.

Sebanyak 109 tiang monorel yang lama terbengkalai perlahan menghilang dari lanskap jalan protokol tersebut. Di atas ruang yang dahulu dipenuhi proyek tak selesai, kini hadir penataan trotoar, halte, drainase, penerangan jalan, hingga jalur sepeda dengan konsep complete street yang lebih ramah bagi pejalan kaki dan penyandang disabilitas.

Pramono tampaknya ingin menunjukkan bahwa Jakarta tidak lagi sekadar membangun gedung tinggi, tetapi juga mencoba memperbaiki kualitas ruang hidup warganya.

“Saya sengaja mengundang ketika pengerjaan belum selesai,” ujar Pramono. Sebab baginya, proses berbenah itu sendiri penting untuk disaksikan publik.

Nama Rasuna Said pun bukan hanya penanda jalan protokol. Sosok Hajjah Rangkayo Rasuna Said sebagai pahlawan nasional menjadi inspirasi semangat perubahan kawasan tersebut. Pemerintah berharap koridor ini kelak menjadi ikon baru Jakarta, wajah modern yang tetap menyimpan jejak sejarah.

Namun, pembenahan kota tidak berhenti pada beton, trotoar, dan lampu jalan. Pada momentum yang sama, Pemprov DKI juga mendeklarasikan Gerakan Pilah Sampah bertema “Menuju 5 Abad, Jaga Jakarta Bersih”.

Di sinilah Jakarta sedang diuji: apakah kota sebesar ini mampu mengubah kebiasaan paling dasar warganya, yakni memperlakukan sampah bukan sekadar barang buangan.

Pramono menegaskan, persoalan sampah tidak mungkin selesai jika hanya dibebankan kepada pemerintah. Pemilahan sampah dari rumah menjadi langkah kecil yang menentukan wajah besar kota di masa depan.

Dukungan pun datang dari pemerintah pusat. Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat menyebut Jakarta sedang mendahului banyak daerah dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih terstruktur. Menurutnya, gerakan ini diharapkan menjadi contoh nasional.

Sementara Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengingatkan bahwa persoalan sampah kini berkaitan langsung dengan cita-cita besar Indonesia, mulai dari swasembada pangan hingga energi.

Target pemerintah cukup ambisius: penanganan darurat sampah di 71 kota melalui teknologi waste to energy dan insinerator, termasuk penyelesaian persoalan Bantar Gebang pada 2028.

Jakarta memang belum selesai. Debu proyek masih tampak di sejumlah sudut kota. Kemacetan tetap menjadi cerita harian. Sampah pun belum sepenuhnya teratasi.

Namun, di usia menuju lima abad, Jakarta tampaknya sedang mencoba satu hal penting: berani meninggalkan simbol-simbol kegagalan masa lalu dan menggantinya dengan harapan baru, sedikit demi sedikit.

Disalin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

@Analisnews.co.id
MENU