
Analisnews.co.id | Kisah sederhana tentang mimpi justru menjadi kekuatan utama dalam film pendek “Annisa” garapan Reza Rahadian. Aktor sekaligus sutradara ini mengangkat cerita seorang anak perempuan tunanetra yang memiliki keinginan kuat untuk bernyanyi di atas panggung—tanpa peduli seberapa besar panggung tersebut.
Dalam konferensi pers program Next Step Studio Indonesia di Institut Français Indonesia (IFI) Thamrin, Jakarta, Reza menegaskan bahwa “Annisa” bukan sekadar film tentang keterbatasan, melainkan tentang keberanian bermimpi.
“Ini cerita tentang seorang anak perempuan yang punya mimpi untuk bernyanyi di panggung, tanpa melihat apakah itu panggung besar atau kecil,” ujar Reza.
Inspirasi film ini datang dari sosok nyata yang ditemui Reza saat menjalani proyek sebelumnya. Ia mengaku tersentuh oleh semangat hidup anak tersebut—sebuah energi yang kemudian ia tuangkan dalam bahasa visual yang sederhana namun kuat secara emosional.
“Saya jatuh cinta pada semangat dan spirit hidupnya,” katanya.
Film “Annisa” menjadi salah satu dari empat karya yang akan tayang perdana dalam program La Semaine de la Critique di Festival Film Cannes 2026. Dalam proses kreatifnya, Reza berkolaborasi dengan sineas Filipina Sam Manacsa, memperkaya perspektif lintas budaya dalam film ini.
Tak hanya itu, Reza juga menggandeng Nazira C. Noer untuk memerankan sosok ibu dari karakter utama. Pemilihan Nazira bukan tanpa alasan—Reza melihat kemiripan kuat antara aktris tersebut dengan sosok ibu asli yang menjadi inspirasi cerita.
Pendekatan penyutradaraan yang diambil Reza pun terbilang minimalis. Ia tidak membangun konsep besar, melainkan merangkai emosi melalui visual yang jujur dan intim.
“Saya mencoba menceritakan kisah ini dengan sederhana, merangkai gambar demi gambar,” ujarnya.
Bagi Nazira, pengalaman membintangi “Annisa” menjadi perjalanan emosional tersendiri. Ia mengaku kerap menitikkan air mata saat melihat langsung perjuangan sang anak dalam memahami adegan demi adegan.
“Saya sampai menangis melihat bagaimana dia berusaha memahami emosi yang harus dimainkan,” kata Nazira.
Yang paling membekas baginya adalah momen sederhana namun penuh makna: ketika sang ibu membisikkan kalimat penyemangat, “ini hari yang baru”, kepada Annisa di tengah proses syuting.
Lebih dari sekadar film, “Annisa” menjadi pengingat bahwa keterbatasan tidak pernah membatasi mimpi. Dalam tangan Reza Rahadian, cerita ini tumbuh menjadi potret kemanusiaan yang hangat—siap menyapa penonton dunia di Cannes.
Program Next Step Studio Indonesia sendiri menjadi ruang kolaborasi bagi sineas Asia Tenggara untuk menembus panggung internasional. Selain “Annisa”, tiga film lain yakni “Holy Crowd”, “Original Wound”, dan “Mothers Are Mothering” juga dijadwalkan tayang perdana dalam program tersebut.