Analisnews.co.id, Jakarta- Berbeda dari kebanyakan film horor yang mengandalkan sosok hantu atau makhluk gaib sebagai sumber ketakutan, karya terbaru sutradara Edwin ini justru menghadirkan teror yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, yakni budaya kerja toksik dan sistem kerja yang tidak manusiawi.
Film produksi Palari Films tersebut mengangkat realitas yang banyak dialami pekerja modern. Berdasarkan Survei Global 2025 Gen Z and Millennial dari Deloitte, sebanyak 77 persen Gen Z dan 74 persen milenial di Indonesia mengaku pekerjaan menjadi sumber utama stres mereka. Selain itu, 57 persen responden merasa tertekan akibat lingkungan kerja yang beracun, sementara jam kerja berlebihan menjadi beban bagi lebih dari separuh responden.
Fenomena tersebut menjadi benang merah dalam perjalanan karakter Putri, Ida, Bona, Rudi, dan Tohar yang harus menghadapi berbagai tekanan di lingkungan kerja mereka.
Sutradara Edwin mengatakan, film ini ingin mengajak penonton melihat bahwa ancaman terbesar bukan selalu berasal dari dunia supranatural, melainkan dari sistem yang membiarkan eksploitasi terjadi secara terus-menerus.
“Sistem kerja yang tidak manusiawi itulah monster yang sebenarnya. Ada pihak yang mengeksploitasi demi keuntungan pribadi, dan ada yang melanggengkannya dengan membiarkan lembur yang tidak wajar terus berlangsung,” ujar Edwin.
Senada dengan itu, aktor sekaligus Produser Eksekutif film ini, Iqbaal Ramadhan, menilai tekanan di dunia kerja merupakan pengalaman yang dapat dirasakan siapa saja, terlepas dari profesi yang dijalani.
“Situasi seperti atasan yang keras, persaingan antar-kolega yang tidak sehat, hingga ekspektasi yang mengorbankan kesehatan fisik dan mental adalah hal yang sangat mungkin terjadi. Inilah monster yang sesungguhnya,” kata Iqbaal.
Selain mengangkat isu sosial yang relevan, Monster Pabrik Rambut juga menawarkan sejumlah keunikan. Film ini disebut sebagai salah satu horor Indonesia pertama yang tidak menjadikan hantu sebagai sumber utama ketakutan. Kengerian justru dibangun dari sistem kerja yang menekan manusia hingga batas kemampuannya.
Film ini juga menjadi proyek kolaborasi internasional yang melibatkan lima negara, yakni Indonesia, Singapura, Jepang, Jerman, dan Prancis. Naskahnya ditulis bersama sastrawan ternama Eka Kurniawan, sementara seluruh efek visual dibuat menggunakan teknik praktikal tanpa bantuan CGI.
Menariknya, Edwin menggunakan rambut sebagai simbol tekanan dan stres yang dialami manusia. Kerontokan hingga perubahan kondisi rambut menjadi representasi fisik dari beban mental yang terus menumpuk.
Secara cerita, Monster Pabrik Rambut mengikuti kisah Putri yang kehilangan ibunya setelah sang ibu bekerja tanpa tidur selama berhari-hari. Saat pihak pabrik menyebut kematian itu sebagai bunuh diri, Ida justru yakin ada kekuatan misterius yang terlibat. Pencarian kebenaran membawa mereka pada sosok hitam yang mengancam keluarga dan menyeret Bona ke dalam bahaya.
Dengan balutan horor fantasi yang unik, film ini tidak hanya menawarkan ketegangan, tetapi juga mengajak penonton mempertanyakan kembali budaya kerja yang selama ini dianggap wajar.
Monster Pabrik Rambut kini telah tayang di seluruh jaringan bioskop Indonesia mulai 4 Juni 2026.
