Analisnews.co.id | Jakarta – Industri perfilman Indonesia kembali diselimuti suasana haru. Film horor “Lastri: Arwah Kembang Desa” dipastikan menjadi karya layar lebar terakhir mendiang Gary Iskak yang dapat disaksikan publik. Film produksi Abelle Pictures itu akan tayang serentak di bioskop mulai 16 Juli 2026, sekaligus menjadi penghormatan atas perjalanan panjang sang aktor di dunia seni peran.
Menjelang penayangan perdana, sutradara Hendri Tivo bersama para pemain dan kru memilih mengawali langkah mereka dengan berziarah ke makam Gary Iskak. Momen tersebut menjadi simbol penghormatan sekaligus ungkapan terima kasih atas dedikasi, profesionalisme, dan semangat yang ditunjukkan Gary selama proses produksi.
“Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada Bang Gary atas semua dedikasi, semangat, dan cinta yang beliau berikan selama proses produksi. Kehadiran beliau masih sangat terasa di setiap adegan dalam film ini,” ujar Hendri Tivo dalam keterangan resminya, Senin (13/7/2026).
Dalam film ini, Gary Iskak memerankan Turenggo, karakter penting yang menjadi kunci terungkapnya misteri kelam di balik kisah Lastri. Penampilannya menjadi salah satu kekuatan utama yang memperkaya atmosfer horor sekaligus memberi kedalaman emosional pada cerita.
Aktris Audy Bella berharap film ini dapat menjadi persembahan terbaik untuk mengenang sosok Gary Iskak sekaligus mengobati kerinduan keluarga, sahabat, dan para penggemarnya.
“Lastri: Arwah Kembang Desa adalah karya terakhir Bang Gary. Mudah-mudahan film ini bisa menjadi obat rindu untuk kita semua. Lewat film ini, masyarakat kembali bisa menyaksikan akting luar biasa beliau dan mengenang seluruh dedikasinya untuk perfilman Indonesia,” ujar Audy.
Selain Gary Iskak, film ini juga dibintangi Hana Saraswati, Yama Carlos, Joe Richard, Dodit Mulyanto, Nando Hilmi, Debby Sahertian, dan Ingrid Wijanarto.
Mengusung kisah horor yang dibalut misteri, “Lastri: Arwah Kembang Desa” tidak hanya menawarkan teror yang mencekam, tetapi juga menghadirkan sisi emosional yang kuat. Bagi para penonton, film ini menjadi kesempatan terakhir menyaksikan penampilan Gary Iskak di layar lebar—sebuah karya yang akan dikenang sebagai warisan seni sekaligus salam perpisahan dari aktor yang telah memberi warna bagi perfilman Indonesia.
