Close Menu
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Sorotan: Sultan Paser 18 Pimpin Forum Bisnis Internasional AAMECC, Dorong Sinergi Global Menuju Indonesia Emas 2045

583 Polisi Kehutanan Jalani Pendidikan di Pusdik Binmas Polri, Perkuat Keamanan Hutan Indonesia

Tiga Motor Hasil Pengungkapan Kasus Ranmor Dikembalikan Polsek Tambora kepada Pemilik

Facebook X (Twitter) Instagram
Analis
Subscribe Now
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
HOT TOPICS
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
Analis
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
You are at:Home»Terkini»Generasi Indonesia Emas: Cerdas Berteknologi, Bukan Dikuasai Teknologi (Bagian Kedua)
Terkini

Generasi Indonesia Emas: Cerdas Berteknologi, Bukan Dikuasai Teknologi (Bagian Kedua)

hartonoBy hartono20 Agustus 2026 8:29 PM015 Mins Read
Share Facebook Twitter WhatsApp
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

 

Dedi Setiadi (Dosen Univ MH Thamrin, Kontributor Banrehi).

Jakarta, Analisnews.co.id, Indonesia sedang berjalan menuju Indonesia Emas 2045. Anak-anak yang hari ini duduk di bangku sekolah kelak akan menjadi generasi produktif yang menentukan wajah Indonesia. Mereka tumbuh pada masa ketika internet, gawai, kecerdasan buatan, dan berbagai teknologi digital sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Karena itu, mempersiapkan generasi Indonesia Emas tidak cukup hanya dengan membuat anak mampu menggunakan teknologi. Yang lebih penting adalah bagaimana mereka mampu menggunakan teknologi secara cerdas, kritis, kreatif, dan bertanggung jawab.

Transformasi digital memang menjadi bagian penting dalam agenda pembangunan nasional. Bappenas menyebut transformasi digital sebagai salah satu prioritas dalam RPJMN 2025–2029, termasuk penguatan infrastruktur digital, literasi masyarakat, dan pengembangan ekonomi digital dengan teknologi mutakhir seperti kecerdasan buatan. Artinya, kemampuan manusia dalam menghadapi perkembangan teknologi bukan lagi persoalan tambahan, tetapi sudah menjadi bagian dari kesiapan bangsa menghadapi masa depan.

Namun, ada satu hal yang perlu kita renungkan. Anak yang mampu membuka berbagai aplikasi, membuat akun media sosial, bermain gim, atau menggunakan kecerdasan buatan belum tentu dapat disebut cakap teknologi. Kemampuan menekan tombol dan mengoperasikan perangkat hanyalah bagian paling dasar. Kecakapan teknologi seharusnya membuat seseorang mampu mencari informasi, memahami informasi, menilai kebenarannya, memanfaatkannya untuk belajar dan berkarya, serta memahami risiko dari setiap aktivitas digital yang dilakukan.

Di sinilah pendidikan memiliki pekerjaan besar. Anak-anak tidak cukup hanya diberi perangkat dan akses internet. Mereka perlu dibimbing agar mampu berpikir sebelum mempercayai sesuatu yang mereka temukan di dunia digital. Mereka harus belajar membedakan informasi dan opini, mengenali berita palsu, memeriksa sumber, menjaga data pribadi, serta memahami bahwa tidak semua sesuatu yang viral berarti benar. Bahkan pada 2026, Kemkomdigi menegaskan bahwa pendekatan literasi digital perlu semakin diarahkan pada kemampuan menghadapi misinformasi, disinformasi, dan hoaks.

Kita juga perlu mengubah cara pandang terhadap teknologi. Teknologi seharusnya tidak membuat anak hanya menjadi penonton dan konsumen. Anak perlu didorong menjadi pencipta. Mereka bisa menggunakan teknologi untuk membuat karya, memecahkan masalah, mencari pengetahuan, mengembangkan ide, dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Dengan demikian, gawai tidak hanya menjadi alat hiburan, tetapi juga dapat menjadi alat belajar dan berkarya. Generasi Indonesia Emas harus dipersiapkan bukan hanya untuk menggunakan teknologi yang sudah ada, tetapi juga untuk menciptakan dan mengembangkan teknologi di masa depan.

Kehadiran kecerdasan buatan membuat kebutuhan tersebut semakin penting. Anak-anak masa kini dapat memperoleh jawaban dalam hitungan detik. Mereka dapat meminta bantuan AI untuk membuat tulisan, mencari ide, menerjemahkan bahasa, membuat gambar, bahkan membantu mengerjakan berbagai tugas. Kemudahan ini tentu memberikan banyak manfaat, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan. Jika teknologi digunakan tanpa proses berpikir, anak bisa menjadi terbiasa mencari jawaban tanpa memahami prosesnya. Pendidikan harus memastikan bahwa teknologi membantu anak berpikir lebih baik, bukan menggantikan proses berpikirnya.

Karena itu, guru memiliki peran yang semakin penting. Guru tidak harus selalu menjadi satu-satunya sumber informasi karena informasi sekarang tersedia begitu luas. Peran guru justru semakin penting sebagai pendamping yang membantu anak memahami, menilai, dan menggunakan informasi dengan benar. Guru perlu mengajarkan anak untuk bertanya, membandingkan sumber, menguji informasi, menyampaikan pendapat, dan menghasilkan karya. Di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat, kemampuan berpikir kritis justru menjadi semakin berharga.

Kemampuan digital juga tidak bisa dipisahkan dari etika. Kemkomdigi menggunakan empat pilar dalam literasi digital, yaitu kecakapan digital, etika digital, keamanan digital, dan budaya digital. Kerangka ini menunjukkan bahwa menjadi cakap secara digital bukan sekadar mampu menggunakan perangkat dan aplikasi. Seseorang juga harus memahami bagaimana berperilaku di ruang digital, menjaga keamanan dirinya, menghormati orang lain, serta menggunakan teknologi sesuai dengan nilai dan budaya yang baik.

Anak juga perlu memahami bahwa dunia digital bukan dunia tanpa aturan. Apa yang ditulis di media sosial dapat memengaruhi orang lain. Foto dan video yang disebarkan dapat meninggalkan jejak digital. Data pribadi yang diberikan sembarangan dapat menimbulkan risiko. Candaan yang dianggap biasa oleh seseorang bisa menjadi luka bagi orang lain. Karena itu, pendidikan teknologi harus berjalan bersama dengan pendidikan tanggung jawab. Anak perlu belajar bahwa kebebasan menggunakan teknologi selalu disertai konsekuensi.

Di sisi lain, orang tua tidak dapat menyerahkan seluruh pendidikan digital kepada sekolah. Anak pertama kali mengenal gawai dan internet dari lingkungan keluarga. Karena itu, orang tua perlu hadir, bukan hanya dengan melarang, tetapi dengan mendampingi. Membicarakan apa yang anak lihat di internet, menanyakan pengalaman mereka di ruang digital, mengajarkan batas penggunaan teknologi, serta memberikan contoh penggunaan gawai yang sehat jauh lebih efektif daripada sekadar mengambil perangkat ketika anak dianggap terlalu lama menggunakannya. Kemkomdigi juga menekankan pentingnya pendampingan orang tua dan guru agar anak dapat memanfaatkan ruang digital secara positif sekaligus memahami risikonya.

Pada akhirnya, kita tidak sedang mendidik anak untuk hidup di dunia yang kita kenal sekarang. Kita sedang menyiapkan mereka untuk dunia yang mungkin jauh berbeda ketika Indonesia memasuki 2045. Teknologi yang hari ini kita anggap baru bisa jadi menjadi sesuatu yang biasa ketika mereka dewasa. Karena itu, pendidikan tidak boleh hanya mengejar penguasaan satu aplikasi atau satu jenis perangkat. Yang lebih penting adalah membangun kemampuan belajar sepanjang hayat, beradaptasi, berpikir kritis, berkreasi, bekerja sama, dan menggunakan teknologi untuk menyelesaikan persoalan kehidupan.

Indonesia Emas 2045 membutuhkan generasi yang tidak takut terhadap teknologi, tetapi juga tidak diperbudak olehnya. Generasi yang mampu menggunakan kecerdasan buatan tanpa kehilangan kecerdasannya sendiri. Generasi yang mampu memanfaatkan internet tanpa mudah terseret informasi yang salah. Generasi yang menggunakan gawai untuk belajar dan berkarya, bukan hanya untuk menghabiskan waktu. Pada akhirnya, teknologi hanyalah alat. Masa depan Indonesia tetap ditentukan oleh manusia yang menggunakannya. Karena itu, tugas pendidikan bukan sekadar membuat anak menjadi melek teknologi, tetapi membentuk generasi yang cerdas menggunakan teknologi, mampu mengendalikan teknologi, dan tahu untuk apa teknologi digunakan.(*)

Share. Facebook Twitter WhatsApp
Previous ArticleIndonesia Emas Dimulai dari Manusia Beradab (Bagian Pertama)
Next Article Tiga Motor Hasil Pengungkapan Kasus Ranmor Dikembalikan Polsek Tambora kepada Pemilik
hartono

Related Posts

Sorotan: Sultan Paser 18 Pimpin Forum Bisnis Internasional AAMECC, Dorong Sinergi Global Menuju Indonesia Emas 2045

20 Agustus 2026 8:37 PM

Indonesia Emas Dimulai dari Manusia Beradab (Bagian Pertama)

20 Agustus 2026 8:20 PM

PERSONEL POLSEK PULAU PETAK LAKSANAKAN SOSIALISASI ILEGAL MINING KE MASYARAKAT GUNA PENCEGAHAN TAMBANG LIAR DI WILAYAH KECAMATAN PULAU PETAK

20 Agustus 2026 7:59 PM
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

Demo
© 2026 analisnews. Designed by analisnews.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.