Close Menu
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Generasi Indonesia Emas: Cerdas Berteknologi, Bukan Dikuasai Teknologi (Bagian Kedua)

Indonesia Emas Dimulai dari Manusia Beradab (Bagian Pertama)

Sesar Aktivitas Masyarakat Polsek Dentim Tingkatkan Patroli KRYD Dan Deteksi Dini Gangguan Kamtibmas

Facebook X (Twitter) Instagram
Analis
Subscribe Now
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
HOT TOPICS
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
Analis
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
You are at:Home»Terkini»Indonesia Emas Dimulai dari Manusia Beradab (Bagian Pertama)
Terkini

Indonesia Emas Dimulai dari Manusia Beradab (Bagian Pertama)

hartonoBy hartono20 Agustus 2026 8:20 PM025 Mins Read
Share Facebook Twitter WhatsApp
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

 

Dedi Setiadi (Dosen Univ MH Thamrin, Kontributor Banrehi).

Jakarta. Analisnews.co.id, Indonesia sedang berjalan menuju Tahun Emas 2045. Pada tahun tersebut, anak-anak yang hari ini duduk di bangku sekolah akan menjadi generasi produktif yang ikut menentukan arah bangsa. Mereka akan menjadi guru, dokter, pengusaha, pemimpin, peneliti, dan orang tua bagi generasi berikutnya. Karena itu, ketika kita berbicara tentang Indonesia Emas 2045, sesungguhnya kita tidak hanya sedang membicarakan pembangunan dan kemajuan ekonomi, tetapi juga sedang membicarakan manusia seperti apa yang ingin kita hadirkan untuk Indonesia di masa depan.

Bappenas menempatkan pembangunan sumber daya manusia sebagai salah satu bagian penting dalam perjalanan menuju Indonesia Emas 2045. Manusia Indonesia diharapkan menjadi manusia yang sejahtera, adaptif, berakhlak mulia, berbudaya maju, unggul, dan berdaya saing. Artinya, keberhasilan pembangunan tidak cukup hanya diukur dari tingginya pendidikan atau kemampuan seseorang. Ada kualitas sikap dan perilaku yang juga menentukan. Di sinilah adab menjadi bagian yang tidak boleh kita tinggalkan dalam pendidikan.

Menurut saya, adab adalah fondasi sebelum seseorang berbicara tentang kecerdasan, prestasi, ataupun keberhasilan. Anak yang pintar belum tentu menjadi manusia yang baik. Ia bisa mendapatkan nilai tinggi, menguasai berbagai ilmu, dan memiliki banyak prestasi, tetapi jika tidak mampu menghormati orang lain, tidak memiliki empati, tidak mampu mengendalikan diri, dan tidak memahami batas antara yang benar dan yang salah, maka kecerdasannya bisa kehilangan arah. Pengetahuan membutuhkan nilai agar dapat digunakan untuk kebaikan.

Adab sebenarnya bukan sesuatu yang rumit. Ia tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan sederhana yang dilakukan setiap hari. Mengucapkan salam, berbicara dengan sopan, mendengarkan ketika orang lain berbicara, menghormati orang tua dan guru, meminta maaf ketika bersalah, mengucapkan terima kasih, tidak mengambil hak orang lain, dan mau membantu sesama adalah contoh sederhana dari adab. Hal-hal seperti ini mungkin terlihat kecil, tetapi dari kebiasaan kecil itulah karakter seseorang dibentuk.

Thomas Lickona, tokoh yang banyak dikenal dalam pendidikan karakter, menjelaskan bahwa karakter yang baik tidak berhenti pada kemampuan mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Karakter juga berkaitan dengan kemampuan merasakan atau mencintai kebaikan dan kemudian mewujudkannya dalam tindakan. Kerangka yang sering dikenal sebagai moral knowing, moral feeling, dan moral action ini mengingatkan kita bahwa mengetahui sesuatu itu baik belum tentu membuat seseorang mau melakukannya. Pendidikan harus membawa anak dari tahu, menjadi mau, lalu terbiasa melakukan kebaikan.

Karena itu, pendidikan adab tidak cukup diberikan melalui nasihat. Anak membutuhkan contoh. Mereka belajar dari apa yang dilihat setiap hari. Ketika orang tua mengajarkan kesopanan, tetapi berbicara kasar kepada orang lain, anak akan menerima pesan yang berbeda. Ketika guru meminta siswa menghargai perbedaan, tetapi lingkungan sekolah justru membiasakan saling merendahkan, pendidikan karakter akan kehilangan maknanya. Keteladanan orang dewasa menjadi bagian yang sangat penting karena anak lebih mudah meniru perilaku daripada mengingat nasihat.

Sekolah pun memiliki peran yang besar. Pendidikan adab seharusnya tidak hanya muncul dalam pelajaran tertentu atau ketika ada kegiatan keagamaan. Adab perlu menjadi budaya sekolah. Cara guru berbicara kepada siswa, cara siswa memperlakukan temannya, cara sekolah menyelesaikan konflik, cara memberikan penghargaan, bahkan cara meminta maaf ketika melakukan kesalahan, semuanya merupakan proses pendidikan. Anak belajar bahwa menghormati orang lain bukan sekadar teori, tetapi bagian dari kehidupan bersama.

Adab juga perlu dibangun dalam cara anak menghadapi perbedaan. Mereka perlu memahami bahwa tidak semua orang harus memiliki pendapat yang sama. Berbeda pandangan bukan alasan untuk menghina. Tidak setuju bukan berarti harus memusuhi. Anak perlu belajar menyampaikan pendapat dengan santun, mendengarkan orang lain, dan menerima bahwa dirinya pun bisa salah. Kemampuan menghargai perbedaan seperti ini akan menjadi bekal penting ketika mereka hidup dalam masyarakat Indonesia yang beragam.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah kemampuan mengendalikan diri. Anak perlu belajar bahwa tidak semua keinginan harus dipenuhi, tidak semua perkataan harus diucapkan, dan tidak semua kemarahan harus dilampiaskan. Menahan diri ketika sedang marah, berpikir sebelum berbicara, dan mempertimbangkan perasaan orang lain merupakan bentuk kedewasaan. Di tengah kehidupan yang serba cepat, kemampuan untuk berhenti sejenak dan berpikir sebelum bertindak justru semakin penting.

Adab juga akan terlihat ketika seseorang memiliki keberhasilan. Seseorang yang memiliki ilmu, jabatan, kekayaan, atau prestasi seharusnya tidak menjadikan semua itu alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain. Justru semakin tinggi kemampuan seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk tetap rendah hati dan menghargai orang lain. Pendidikan yang baik bukan hanya menghasilkan manusia yang mampu mencapai sesuatu, tetapi juga manusia yang tidak kehilangan dirinya ketika telah mencapai sesuatu.

Tantangan kita sekarang adalah bagaimana membuat adab menjadi kebiasaan, bukan sekadar pengetahuan. Anak perlu dibiasakan jujur meskipun tidak ada yang mengawasi. Mereka perlu belajar meminta maaf tanpa harus dipaksa. Mereka perlu belajar mengucapkan terima kasih tanpa merasa gengsi. Mereka perlu belajar menolong tanpa menunggu pujian. Mereka juga perlu belajar melakukan hal yang benar meskipun tidak ada penghargaan. Pada titik itulah adab mulai menjadi bagian dari karakter, bukan hanya aturan yang harus ditaati.

Jika kita ingin Indonesia menjadi bangsa yang maju pada 2045, pembangunan manusia tidak boleh berhenti pada kecerdasan. Kita perlu menyiapkan manusia yang memiliki ilmu sekaligus memiliki hati, mampu berpikir tetapi juga mampu menghargai, memiliki keberanian tetapi tahu kapan harus menahan diri, serta memiliki prestasi tanpa kehilangan kerendahan hati. Indonesia membutuhkan generasi yang bukan hanya mampu bersaing, tetapi juga mampu hidup bersama dengan baik.

Indonesia Emas 2045 pada akhirnya bukan hanya tentang apa yang akan kita bangun, tetapi tentang siapa yang akan mengisi Indonesia di masa depan. Anak-anak yang hari ini sedang belajar adalah manusia yang kelak akan mengambil keputusan, memimpin, bekerja, membangun keluarga, dan hidup bersama masyarakat. Karena itu, pendidikan adab tidak bisa ditunda. Ia harus dimulai dari rumah, diperkuat di sekolah, dan dijaga oleh lingkungan. Sebab bangsa yang besar bukan hanya membutuhkan manusia yang pintar, tetapi manusia yang tahu bagaimana menggunakan kepintarannya dengan benar. Indonesia Emas dimulai dari manusia yang beradab.(*)

Share. Facebook Twitter WhatsApp
Previous ArticleSesar Aktivitas Masyarakat Polsek Dentim Tingkatkan Patroli KRYD Dan Deteksi Dini Gangguan Kamtibmas
Next Article Generasi Indonesia Emas: Cerdas Berteknologi, Bukan Dikuasai Teknologi (Bagian Kedua)
hartono

Related Posts

Generasi Indonesia Emas: Cerdas Berteknologi, Bukan Dikuasai Teknologi (Bagian Kedua)

20 Agustus 2026 8:29 PM

PERSONEL POLSEK PULAU PETAK LAKSANAKAN SOSIALISASI ILEGAL MINING KE MASYARAKAT GUNA PENCEGAHAN TAMBANG LIAR DI WILAYAH KECAMATAN PULAU PETAK

20 Agustus 2026 7:59 PM

DALAM UPAYA PENCEGAHAN KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN, PERSONEL POLSEK PULAU PETAK SOSIALISASIKAN SANKSI PIDANA PELAKU KARHUTLA KE MASYARAKAT KECAMATAN PULAU PETAK

20 Agustus 2026 7:58 PM
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

Demo
© 2026 analisnews. Designed by analisnews.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.