Kade Sudiana Dorong Bertani Bijak: Pertanian Organik Subak Berawantangi Jaga Tanah, Jaga Air dan Jaga Tradisi
Analisnews.co.id — JEMBRANA | Dibalik gemerlapnya pariwisata Bali, denyut pertanian di Jembrana masih tetap terjaga. Disebutkan, Subak Berawantangi di Desa Tukadaya, Kecamatan Melaya, menggelar panen raya padi organik seluas 4 hektar pada Sabtu, 29 Agustus 2026.

Panen ini bukan sekadar seremonial. Ini bukti nyata bahwa di balik geliat pariwisata, kehidupan di sawah masih menjadi penopang ketahanan pangan. Dimulai dari rumah, warung, hingga hotel dan restoran, nasi tetap tersedia dibalik tangan-tangan petani yang setia menggarap lahan.
Lebih dari itu, panen ini merupakan hasil pendampingan Yayasan Dibia Amerta kepada petani Subak Berawantangi dalam menerapkan sistem pertanian organik berkelanjutan.
Demplot 4 Hektar, Produksi Naik Jadi 8-9 Ton per Hektar:
Lahan demplot 4 hektar di Subak Berawantangi menjadi pelopor pertanian organik. Sebagai tahap awal Menggunakan varietas Mardi Rice Clearfield Production MRCL 219, dan menariknya demplot ini dikelola oleh 149 anggota petani dari total luas subak 129 hektar.

Ketua Yayasan Dibia Amerta, Kade Sudiana, S.E.,S.Pd., M.M.,M.Pd., menyebut panen ini sebagai momentum memperkuat sektor pertanian organik di Bali. Ia juga mengingatkan, Kabupaten Jembrana sudah memiliki Perda, Nomor 9 Tahun 2010 tentang Pengembangan Pertanian Organik di Jembrana.
Perda tesebut mengatur sistem budidaya, pengawasan, hingga pengembangan kawasan pertanian ramah lingkungan tanpa bahan kimia/sintetis di Jembrana.
Selain itu pengolahan produk turunan dan bahan organik juga bersinergi dengan aturan penunjang lain seperti peraturan Bupati Jembrana Nomor 17 Tahun 2024;tentang komoditi kakao ( mencakup standar pengolahan produk organik) serta kebijakan pengolahan sampah organik berbasis sumber, papar Kade Sudiana
Ia juga paparkan Akronim PETANI: Pertahanan Ekonomi Tanah Air Negara Indonesia.
“PETANI adalah pilar bangsa dalam mendukung swasembada dan ketahanan pangan,” ujarnya.

Berdasarkan hasil ubinan dan pengecekan awal oleh petani dan penyuluh, produktivitas gabah mengalami peningkatan signifikan. Sebelum menggunakan pupuk organik, hasil berkisar 6,5-7 ton per hektar. Setelah beralih ke organik, perbandingan 50℅ organik 50℅ nonorganik, hingga tiga kali masa tanam, padi sudah ful organik, dan panen pertama hasil naik sesuai target menjadi 8-9 ton per hektar.
“Peningkatan ini terjadi karena kami fokus memperbaiki unsur hara tanah yang sebelumnya rusak akibat penggunaan pupuk non-organik dalam jangka panjang,” jelas Kade Sudiana.
De Gadjah Turun Langsung ke Sawah:
Menariknya, sejumlah pejabat dan pemangku kebijakan turun langsung memanen, bersama petani, subak Berawantangi diantaranya:
Ketua DPD HKTI Bali, Made Muliawan Arya atau De Gadjah. Brigjen TNI(purn) dr. Made Mardika.
Bupati Jembrana Made Kembang Hartawan, diwakili Kadis Pertanian Jembrana, Putu Eka Arta, Anggota Dandim 1617/Jembrana, Kapolsek Melaya, dan Batalyon Teritorial Pembangunan Jembrana.
Kehadiran mereka menunjukkan dukungan kuat terhadap pengembangan pertanian berkelanjutan di Jembrana.
Dorongan Pembentukan Bank Tani:
Kade Sudiana dorong, panen ini menjadi contoh bagi subak lain di Bali. “Dengan metode organik, petani tidak hanya menjaga produktivitas tetapi juga kelestarian lingkungan dan kearifan lokal subak,” jelasnya.
Ia juga menyampaikan harapan besar agar Bank Tani dapat segera terwujud di Kabupaten Jembrana. Bank Tani diharapkan dapat memfasilitasi petani mulai dari pengolahan tanah hingga pascapanen.
“Kami yakin dengan adanya Bank Tani, generasi muda yang dulunya enggan menjadi petani akan kembali tertarik menggarap sawah,” katanya.
Kade Sudiana juga memaparkan motto Yayasan Dibia Amerta: “Dihamparan sawah dan langit yang terbentang luas, petani adalah pejuang di garis depan menuju kedaulatan pangan di Indonesia. Bertani dengan bijak agar tanah subur, petani makmur, untuk generasi berkelanjutan.”
Ia mengapresiasi dukungan Bupati Jembrana Made Kembang Hartawan dan DPD HKTI Provinsi Bali, De Gadjah, Stakeholder, pemangku kebijakan sehingga bisa terlaksana panen raya di Subak Berawantangi.

Sistem pertanian organik ini diyakini mampu menjawab tantangan ketahanan pangan sekaligus melestarikan nilai-nilai Tri Hita Karana yang menjadi fondasi subak di Bali.
Panen raya Subak Berawantangi membuktikan bahwa pertanian organik bisa menjadi solusi masa depan. Dari 4 hektar lahan ini, diharapkan lahir gerakan besar petani Bali untuk kembali ke alam, jaga tanah, jaga air, dan tradisi leluhur.(ranu)
#Jembrana #Panen Padi Organik #Subak Berawantangi #Pertanian Berkelanjutan #Ketahanan Pangan
