Polres Kapuas bersama Pemerintah Daerah, TNI, BPBD, Damkar, tokoh adat dan unsur terkait memperkuat sinergi pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) melalui Focus Group Discussion (FGD) di Aula Tingang Menteng Panujung Tarung Polres Kapuas, Senin (14/9/2026).
Kegiatan yang dibuka Wakapolres Kapuas Kompol Susilowati, S.E., M.M., tersebut juga dihadiri Asisten I Pemkab Kapuas yang mewakili Bupati, lima Serdik Sespimmen Polri Dikreg Ke-67 T.A. 2026, PJU Polres Kapuas, Kadis Sosial, Kadis Lingkungan Hidup, Kalaksa BPBD, perwakilan Damkar, PWI, Damang Selat, Ketua DAD Kapuas serta Pasiter Kodim 1011/KLK.
Dalam paparan Kasubbagdalops Bagops Polres Kapuas AKP Agus Susanto, disampaikan bahwa hingga 5 September 2026 tercatat 17.371 hotspot, 198 kejadian Karhutla dan luas lahan terbakar mencapai 1.530,92 hektare.
Polres Kapuas terus memperkuat langkah preemtif, preventif dan represif, termasuk patroli, pengecekan hotspot, pemadaman, kesiapan sarana prasarana serta koordinasi lintas instansi melalui Collaboration Desk.
Wakapolres Kapuas menegaskan pencegahan Karhutla tidak cukup hanya melalui imbauan, namun harus dibarengi solusi yang menyentuh kebutuhan masyarakat.
“Pendekatan harus bergeser dari sekadar sosialisasi pasif menjadi pemberdayaan ekonomi, sehingga masyarakat memiliki alternatif membuka lahan tanpa harus membakar,” ujar Kompol Susilowati.
Sementara itu, Serdik Sespimmen Polri mendorong penguatan peran Masyarakat Peduli Api, tokoh adat dan perangkat desa dalam deteksi dini serta edukasi. Selain itu, perlu difasilitasi teknologi Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) yang terjangkau dan mudah diterapkan masyarakat.
Penegakan hukum tetap dilakukan sebagai langkah terakhir, khususnya terhadap pembakaran yang disengaja dan berskala besar, disertai edukasi mengenai konsekuensi hukum bagi pelaku.
Kapolres Kapuas AKBP Rina Perwitasari, S.H., S.I.K., M.H., CPHR., CBA., melalui Wakapolres Kapuas menegaskan bahwa penanganan Karhutla membutuhkan kerja bersama.
“Karhutla bukan hanya persoalan memadamkan api, tetapi bagaimana kita mencegah api itu muncul. Sinergi seluruh pihak harus diperkuat agar masyarakat tetap dapat mengelola lahannya tanpa membakar dan tanpa merusak lingkungan,” pungkasnya.
