Close Menu
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Big Media
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Polsek Kapuas Barat Cek Ketahanan Pangan Pertanian di Desa Sei Kayu, Dukung Kemandirian Pangan Lokal

DJKI Catat 3.865 Lagu di PDLM Demi Tata Kelola Royalti yang Lebih Baik

Dorong IP Lokal Tembus Pasar Global, Kemenekraf Perkuat Kolaborasi Seni Pertunjukan dan Film

Facebook X (Twitter) Instagram
Analis
Subscribe Now
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
HOT TOPICS
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Big Media
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
Analis
  • Beranda
  • Tulis Berita
  • Big Media
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Kateng
  • Terkini
You are at:Home»Nasional»Dorong IP Lokal Tembus Pasar Global, Kemenekraf Perkuat Kolaborasi Seni Pertunjukan dan Film
Nasional

Dorong IP Lokal Tembus Pasar Global, Kemenekraf Perkuat Kolaborasi Seni Pertunjukan dan Film

yadiBy yadi10 September 2026 8:57 AM0133 Mins Read
Share Facebook Twitter WhatsApp
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Analisnews.co.id | JAKARTA — Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) memperkuat sinergi antara subsektor seni pertunjukan dan film. Kolaborasi tersebut dinilai dapat menjadi salah satu jalan untuk mengembangkan kekayaan intelektual (IP) lokal sekaligus menciptakan nilai tambah dan lapangan kerja dalam ekosistem ekonomi kreatif.

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Irene Umar, menerima audiensi rumah produksi Keana Pictures di Kantor Kementerian Ekraf, Jakarta, Rabu (9/9/2026). Pertemuan itu membahas sejumlah rencana pengembangan karya berbasis kebudayaan untuk periode 2026–2027.

Keana Film sebelumnya menggarap sejumlah karya, antara lain teaterikal Laksamana Malahayati, monoplay Melati Pertiwi dan Meradjoet Sendja, serta film Kalau Kau Indonesia, Tepuk Dada! (2012) dan Rectoverso: Cinta yang Tak Terucap (2013).

Dalam audiensi tersebut, Keana Film memaparkan sejumlah program yang disiapkan, seperti Monolog Melati Pertiwi, Kongres Perempuan di Yogyakarta, dan festival CULTURA di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Festival tersebut diarahkan untuk mendorong pertukaran budaya anak sekaligus memberdayakan pelaku UMKM lokal.

Rencana lainnya adalah mengembangkan IP Laksamana Malahayati dari seni pertunjukan ke medium komik dan film panjang. Pengembangan tersebut dibuka untuk kemungkinan kolaborasi dengan mitra internasional.

Irene mengatakan, pengembangan subsektor kreatif membutuhkan titik temu antara karya, ekosistem, dan model bisnis. Dengan demikian, kegiatan kreatif tidak berhenti pada produksi karya, tetapi dapat berkembang menjadi industri yang berkelanjutan.

«“Kita perlu mencari titik temu yang memungkinkan ekosistem kreatif tumbuh secara efisien dan berkelanjutan. Bukan hanya membangun potensi yang sudah tercipta, tetapi juga memastikan model bisnis kreatif bisa berjalan,” ujar Irene.»

Menurut dia, penguatan ekosistem tersebut juga penting untuk memberikan kepastian bagi investor yang hendak masuk ke subsektor seni pertunjukan dan film.

Irene menambahkan, seni pertunjukan dan film memiliki keterkaitan yang kuat. Panggung pertunjukan dapat menjadi ruang lahirnya IP, pengembangan talenta, sekaligus pintu masuk menuju medium kreatif lainnya.

«“Seni pertunjukan dan film sebenarnya berada dalam satu ekosistem yang saling menguatkan. Subsektor seni pertunjukan bukan hanya ruang ekspresi budaya, tetapi juga dapat menjadi sumber penciptaan IP, pengembangan talenta, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi para pejuang ekraf,” katanya.»

Ia berharap karya-karya seni pertunjukan tidak berhenti sebagai tontonan, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk kreatif dengan model bisnis yang berkelanjutan dan memiliki peluang untuk diadaptasi ke medium lain, termasuk film.

Bioskop Rakyat

Pembahasan juga mencakup pengembangan infrastruktur kreatif melalui program Indiskop Bioskop Rakyat. Program tersebut diarahkan untuk mempertemukan film, seni pertunjukan, kebudayaan, dan edukasi dalam satu ekosistem.

Irene menilai efisiensi dan pemanfaatan teknologi menjadi kunci agar model bioskop rakyat dapat diterapkan di lebih banyak daerah. Sistem digital, misalnya, dapat dimanfaatkan untuk distribusi, penjualan tiket, hingga pengelolaan jaringan bioskop.

Dengan pengelolaan yang lebih terpusat dan biaya operasional yang efisien, ekosistem perfilman diharapkan semakin kompetitif sekaligus mampu menjangkau masyarakat di berbagai daerah.

Sementara itu, Direktur Utama Keana Film, Marcella Zalianty, mengatakan rumah produksi yang dipimpinnya berfokus pada dua spektrum ekonomi kreatif, yakni seni pertunjukan dan film.

Menurut Marcella, regenerasi menjadi salah satu hal penting dalam menjaga keberlanjutan industri kreatif. Pendidikan dan pelatihan diperlukan agar muncul talenta baru yang mampu melanjutkan sekaligus mengembangkan karya kreatif Indonesia.

Marcella juga melihat peluang besar dalam pengembangan IP lokal menjadi karya yang dapat diterima pasar internasional.

Ia mencontohkan pengalaman Keana Film mengadaptasi karya sastra Rectoverso karya Dewi Lestari menjadi film omnibus. Pengalaman tersebut menjadi salah satu inspirasi untuk mengembangkan konsep omnibus di panggung yang mengangkat kisah pahlawan dari berbagai latar perjuangan dan lintas waktu.

«“Dengan demikian, Keana Film bisa menjadikan suatu IP lokal go global karena konten yang universal dan pantas membawa identitas Indonesia mendunia,” tutur Marcella yang juga Ketua Umum Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI 56).»

Dalam pertemuan tersebut, Irene Umar didampingi Direktur Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Dadam Mahdar. Dari Keana Film hadir Strategic Partner Fary Farghob, Partnership Aszka Arief, dan Sekretariat Widya.(***)

Redaksi.

#EkonomiKreatif #FilmIndonesia IPLokal IreneUmar KeanaFilm KementerianEkraf MarcellaZalianty SeniPertunjukan
Share. Facebook Twitter WhatsApp
Previous ArticlePrabowo Siap Gelontorkan Bonus Rp3 Miliar Per Emas Asian Games 2026: Jangan Pelit!
Next Article DJKI Catat 3.865 Lagu di PDLM Demi Tata Kelola Royalti yang Lebih Baik
yadi

Related Posts

Prabowo Siap Gelontorkan Bonus Rp3 Miliar Per Emas Asian Games 2026: Jangan Pelit!

10 September 2026 8:52 AM

“Aku Istimewa, Kamu Juga”: Film Istimewa Buka Percakapan tentang Mimpi, Kesempatan, dan Penerimaan

8 September 2026 7:03 PM

Pascaerupsi Gunung Anak Krakatau, Tiga Bandara Kembali Layani Penerbangan

8 September 2026 7:34 AM
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

Demo
© 2026 analisnews. Designed by analisnews.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.